v4n73r

Learn To Fly

Pulau Gangga, Pesona Eksotis yang Menghipnotis

Tiba di Pulau Gangga

Tiba di Pulau Gangga

Mentari baru saja terbit, ketika saya dan rombongan yang berjumlah 24 orang sudah berkumpul di lokasi yang ditentukan, untuk live in atau tour ke Pulau Gangga, sebuah pulau yang katanya memiliki panorama magis karena indahnya sungguh eksotis. Adapun, Pulau Gangga letaknya di sebelah Utara Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara-Sulawesi Utara. Jarak tempuhnya kira-kira 10 Km dari Pelabuhan Likupang Barat dengan menggunakan sarana transportasi angkutan laut, berupa kapal kecil.

Hampir 2 jam kami menunggu rekan-rekan lain yang ingin berangkat, termasuk Ketua Rombongan Venly Tiwow. Maklum, dari dialah, kami diundang untuk berkunjung ke sana. Setelah semua terkumpul, maka kami pun berangkat dengan mengendarai bus angkutan dalam propinsi, pada pukul 09.00 WITA. Perjalanannya begitu jauh. Saya saja hampir tak kuasa duduk lama dan menunggu, diiringi lajunya bus yang membuat badan saya berayun ke kiri dan kanan, plus jingkrak-jingkrak. Jaraknya kira-kira hampir 50 km untuk sampai pada Pelabuhan Likupang Barat, Kecamatan Likupang, bila dihitung dari tempat awal kami berangkat, yakni dari Pineleng, Kecamatan Pineleng Kabupaten Minahasa. Meski begitu, rombongan tak kelihatan lelah sama sekali. Malah perjalanan ini disambut antusias. Pasalnya, sebagian besar dari kami, belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Gangga. Tak hanya itu, sepanjang perjalanan, kami disuguhi pementasan lagu yang mengalun dari bunyi enam senar yang dipetik rekan seperjuangan saya.

Perjalanan panjang yang kami lalui, akhirnya membuahkan hasil. Meski memakan waktu 4 jam lamanya, kami akhirnya tiba di Pasar Likupang Barat, Kecamatan Likupang, yang di sana terdapat pelabuhan kecil, tempat di mana sejumlah kapal kecil yang menuju ke Pulau Gangga, berjejer menanti penumpang. Kami tiba pada Pukul 13.30 WITA. Rupanya, kedatangan kami telah ditunggu. Seorang ibu yang murah senyum dan sederhana, terlihat mendatangi Ketua Rombongan, Venly Tiwow sembari berkata, “Saya di sini untuk menjemput anda dan saya telah menunggu kedatangan anda,” katanya. Usai berkata demikian, dirinya meminta kami bersabar sebentar karena ada beberapa angkutan yang belum selesai diangkut ke kapal. Setelah menunggu hampir 15 menit, kami akhirnya dipersilahkan naik ke kapal.

Mulai Bertolak ke Pulau Gangga

Mulai Bertolak ke Pulau Gangga

Sewaktu menginjakkan kaki di pesisir pantai, tempat di mana kapal yang akan kami tumpangi berlabuh, hati saya begitu riang. Apalagi, aroma laut yang selama ini hilang dari indera penciuman saya muncul dan membakar jiwa. Maklum, daerah saya di Maluku Tenggara Barat, juga daerah maritim. Makanya meski hampir tak pernah rutin berkunjung ke laut, aroma itu selalu membekas. Air asin yang hangat, bekas-bekas garam yang menempel, serta aroma rumput laut yang seringkali disapa ‘anyir’ sudah tak lazim bagi saya. Saking riangnya hati saya, saya seakan tak peduli, membiarkan celana jeans yang saya kenakan dibasahi air laut, ditambah mampirnya sejumlah butiran pasir yang melekat di celana saya.

Gerbang Kecil Pulau Gangga

Pulau Gangga Resort.

Hampir 30 menit kami menunggu sebelum akhirnya kapal mulai bergerak, meninggalkan pelabuhan kecil. Deru mesin 40 PK mengiringi awal perjalanan kami ke Pulau Gangga. Perlahan namun pasti, kapal mulai bergerak menjauhi dermaga, seiring ditariknya jangkar. Dermaga kian jauh. Laut lepas telah di depan mata. Saya bisa melihat dari dekat, sejumlah ‘bagan’ (tempat penangkapan ikan) milik warga berjejer di laut. Tak hanya itu, di sebelah utara, terdapat beberapa pohon bakau yang tumbuh di perbatasan antara area laut dangkal dan laut biru (laut dalam), menurut pengakuan warga. Konon, pohon tersebut telah sekian lama tumbuh dengan damainya di sana. Setibanya di laut lepas, mesin 40 PK yang satunya lagi dihidupkan “engineer” atau pengemudi kapal. Laju kapal pun kian cepat. Laut yang tenang ditambah cuaca yang cerah membuat perjalanan kian menyenangkan dan sayang bila tidak dinikmati. Bahkan, awan pun seakan memberi jempol alias menyukai perjalanan kami.

Saking menariknya perjalanan ini, saya tak lupa mengabadikan gambar lewat Kamera Canon 60 D yang dipijamkan bos kepada saya. Tak hanya itu, saya pun berhasil berbincang-bincang dengan beberapa warga Pulau Gangga, yang salah satunya berprofesi sebagai engineer. Bapak John menuturkan, profesinya sebagai pengemudi kapal sudah dilakoni selama 10 tahun. Dirinya mengaku, kapal kecil miliknya adalah warisan keluarga.

Enggineer

Engineer

“Sudah 10 tahun saya jadi engineer. Ini profesi saya dan saya menikmatinya,” katanya. Dilanjutkannya, profesi dan keahliannya ini adalah warisan dari ayahnya sedari kecil. Makanya bila bicara soal laut, dirinya tahu persis kapan harus berlayar dan kapan tidak. “Warisan dari ayah. Makanya saya tahu waktu mana boleh berlayar dan waktu mana tidak boleh berlayar. Perjalanan dari dermaga ke Pulau Gangga memakan waktu 40 menit saja. Itu pun bila menggunakan dua mesin. Kalau mesinnya hanya satu, maka bisa memakan waktu 50 sampai 1 jam baru sampai. Biasanya cuaca bagus, pada bulan-bulan Februari hingga bulan pertengahan Agustus. Menjelang Oktober, cuaca sudah tidak bagus lagi, karena musim barat. Arusnya kencang, anginnya kuat, begitu juga ombaknya. Boleh berlayar asal tahu strateginya,” ungkapnya kembali.
Adapun tarif yang dipatok berjumlah 15 ribu rupiah per kepala. Maksudnya setiap penumpang harus merogoh kocek sebesar 15 ribu rupiah. Harga yang cukup murah untuk bisa mengakses pesona indahnya Pulau Gangga. Sebab selain panorama laut yang mengagumkan, Pulau Gangga pun memiliki pesona alam yang begitu sempurna untuk dinikmati. Apalagi, hampir 80 persen alam yang ada di daerah ini belum terjamah sedikitpun. Pasalnya, aktivitas sehari-hari penduduk, kebanyakan mencari ikan di laut, dan karena itu, jarang melakoni profesi berladang. Pantas saja, meski belum tiba di dermaga Pulau Gangga, terlihat sejumlah nelayan sedang mencari ikan di laut.

Gangga dari Laut Lepas.

Gangga dari Laut Lepas.

Pemandangan lain yang bisa dilihat juga yakni, pesona eksotis Pulau Lihaga. Pulau terpisah yang juga memiliki situs wisata menarik. Pantai pasir putih yang panjangnya hampir mengelilingi pulau tersebut, seakan membakar hasrat setiap mata yang memandangnya. Di sebelah barat pulau tersebut, terdapat Gangga Resort, (wilayah Gangga I) kawasan wisata prestisius yang katanya dimiliki salah seorang turis dari Italia. Di kawasan tersebut, terdapat rumah-rumah peristirahatan kecil di mana pengunjung bisa menikmati indahnya sunset disertai pemandangan laut yang indah.

Nelayan sedang mencari ikan di laut.

Nelayan sedang mencari ikan di laut.

Tak hanya itu, di sebelah utara Pulau Gangga, ada sebuah pulau yang juga menyajikan pemandangan menarik. Warga menyebutnya Pulau Tendila. Pulau ini terpisah dari Pulau Gangga, dan menariknya lagi, terpisahnya Tendila dari Gangga, seakan membentuk sebuah ‘Pintu’ atau ‘Gerbang’ di tengahnya. Konon, di tengah pulau tersebut terdapat begitu banyak ikan yang tak pernah ada habisnya. Selain itu, keindahan alam bawah lautnya juga menarik untuk ditelusuri bagi para pencinta diving. Belum habis keindahan itu saya santap, pemandangan lain yang tak kalah indahnya yakni pesona terumbu karang dan bintang laut yang bisa dilihat sewaktu kapal merapat di pesisir pantai Pulau Gangga. Apalagi, jarak antara daratan dan lokasi biota laut tersebut hanya berkisar 10 meter saja. Kedalamannya pun hanya mencapai 1 meter.

Terumbu karang yang harus dilestarikan.

Terumbu karang yang harus dilestarikan.

Kapal akhirnya merapat, dan kami pun turun. Terlihat sejumlah warga menyambut kami dengan senyum manis dan ramah. Bahkan bocah-bocah kecil sederhana pun tak sungkan menorehkan sesungging senyum di bibir mereka bagi kami orang asing ini. Kami kemudian disambut di rumah salah satu warga untuk beristirahat, dan kemudian diundang untuk makan siang bersama. Hidangan ikan segar dari berbagai jenis menghiasi meja makan. Daging yang segar dan gurih ini seakan-akan membuat saya lupa diri. Bagaimana tidak, struktur daging yang masih empuk dan kenyal karena segarnya ikan yang diolah dengan rempah-rempah lokal, membuat lidah saya ‘berdansa’ di balik ‘gua bergirigi’ ini.

Ikan segar yang langsung dibakar.

Ikan segar yang langsung dibakar.

Usai menyantap hidangan ikan segar yang disediakan, kami mulai dibagi di rumah-rumah warga untuk menginap. Desa ini punya satu jalan utama saja. Meski begitu, tata letak rumahnya sangat rapih seakan menggambarkan bahwa desa ini adalah desa makmur dan nyaman. Warganya pun ramah-ramah dan kelihatan kompak satu sama lain.

Senyum bocah Gangga.

Senyum bocah Gangga.

Setelah dihantar oleh seorang Ibu ke rumah-rumah tempat di mana kami akan menginap, kami kemudian diajak oleh salah seorang bapak untuk berkunjung ke Pantai GIR (Gangga Island Resort) atau nama lokalnya Pantai Balubu yang terletak sekitar 2,5 Km dari kampung. Sebelum memasuki pantai tersebut, kami disuguhi pemandangan indah lainnya. Terpampang jelas di mata saya, luasnya padang Ilalang yang mengagumkan. Sebab di lokasi ini saya bisa menikmati indahnya sunset di sebelah barat, dan merdunya desiran ombak di sebelah timur. Dua pilihan yang seakan-akan mengajak saya untuk bersikap ‘rakus’, ingin menyantap keduanya sekaligus. Saya hampir saja ditinggal sendiri bila teman saya tidak memanggil, mengikuti rombongan yang ternyata sudah lebih dulu tiba di pantai.

Kekaguman saya kian bertambah, ketika untuk pertama kalinya kaki kanan saya menginjak pasir putih Pantai Balubu. Rasanya begitu halus, hampir lebih halus dari gula pasir. Tak hanya itu, saya juga semakin kagum bukan kepalang, ketika di sebelah kanan saya, terdapat sebuah tanjung yang sangat menarik untuk dijadikan lokasi pemotretan. Bertindak layaknya fotografer handal, saya pun langsung bergegas menuju tanjung karang tersebut, yang akhirnya diikuti pula oleh rombongan untuk berpose ria diselingi sambaran ‘kilat’ dari sejumlah kamera yang sempat dibawa mereka. Parahnya lagi, saya akhirnya jadi bulan-bulanan. Maksudnya kebanjiran order foto di lokasi tersebut. Hehehehehe.

Tanjung Pantai Balubu.

Tanjung Pantai Balubu.

Tanjung Pantai Balubu
Dua jam lebih kami menikmati indahnya pantai, sambil tak lupa membasahi diri. Tak terasa, hujan pun turun membasahi kegembiraan kami. Kami akhirnya berteduh di salah satu rumah warga, yang dipercayakan menjaga lokasi tersebut. Ketika hujan reda, kami kemudian bergegas pulang sebelum malam tiba, menyusuri padang ilalang, berkawan sunset yang hampir redup ditelan waktu yang bergulir.
Sesampainya di kampung, kami menyempatkan diri di sebuah sumur yang konon berusia 10 tahun untuk membersihkan garam, yang masih melekat di badan. Sumur tersebut dibangun oleh Almarhum Bapak Sikome dan Menantunya Fransiskus Balau atau sapaan akrabnya bapak Amang. Kisah sumur ini bermula saat kedua warga tersebut menemukan sebuah lokasi mata air.
“Waktu itu, hujan begitu deras. Kira-kira 10 tahun lalu. Sewaktu hujan reda, saya dan ayah mertua, hendak pergi menggali sumur. Namun dalam perjalanan, kami menemukan sebuah kolam yang airnya ‘biru’ (jernih). Kami kemudian menggalinya karena berniat memelihara ikan. Kira-kira lebarnya mencapai 5 meter. Proyek itu akhirnya gagal, karena beberapa warga sudah menggunakannya untuk mandi. Bahkan ada yang sampai berendam di kolam tersebut. Kami akhirnya pindah ke arah utara lagi untuk melakukan penggalian, mengikuti jalan mata air. Akhirnya kami menemukannya. Saya dan mertua terus menggali hingga akhirnya menjadi sebuah sumur. Airnya tawar dan segar. Usai merapikan galian, kami menutupnya dan merahasiakannya dari warga. Maklum pada waktu itu, air cukup sulit, dan kami pun belum tahu apabila mata air tersebut akan bertahan atau tidak. Soalnya, beberapa sumur yang sempat digali akhirnya kering, karena airnya tidak mengalir lagi,” ungkap Amang sapaan akrabnya.

Lebih lanjut dikisahkannya, rahasia ini akhirnya terbongkar di musim kemarau yang cukup panjang di tahun 2000-2001. “Rahasia ini terbongkar waktu kampung dilanda musim kemarau. Banyak warga yang terpaksa minum air ‘salobar’ (air asin). Sedangkan kami, minum air tawar dari sumur yang kami gali sendiri. Warga akhirnya mengetahui, karena hampir tiap hari kami mengambil air dari sumur tersebut. Mereka bertanya airnya dari mana. Saya kemudian menuturkan, air tersebut berasal dari sumur yang digali oleh saya dan mertua saya. Akhirnya tanpa menunggu lama, warga bergotong royong membangun sumur tersebut, membuatnya menjadi sumur yang layak untuk dipergunakan baik untuk mencuci, mandi dan bahkan untuk minum. Selang beberapa hari kemudian sumur itu akhirnya diberkati oleh Pendeta setempat, dan diberi nama sesuai dengan nama almarhum ayah mertua saya,” tuturnya.

Usai membersihkan diri, kami kembali ke rumah tempat kami menginap masing-masing untuk mandi, karena ada kegiatan selanjutnya. Pukul 18.30 WITA kami berkumpul kembali. Listrik pun mulai dinyalakan oleh petugas PLN Cabang Minut yang berdomisili di Gangga. Adapun jadwal dinyalakannya listrik tidak seperti di kota. Listrik hanya dijalankan pada malam hari, yakni pada pukul 18.00-01.00 WITA. Sedangkan pada waktu siang hari, listrik tidak dinyalakan sama sekali. Meski begitu, para pengguna handphone tidak usah khawatir. Pasalnya di pulau ini, tower provider Telkomsel berdiri dengan megahnya. Makanya, sinyal komunikasi selalu tersedia. Sementara itu, udara di Pulau ini terasa hangat. Saking hangatnya, saya harus ‘mandi suar’ alias berkeringat terus. Untunglah, angin di pulau ini ‘selalu tersedia’. Makanya, meski berkeringat, saya tetap merasa sejuk.

Setelah melewati dua hari satu malam yang mengagumkan, kami akhirnya berpisah pada Minggu (07/04) Pukul 15.30 WITA. Cuaca mendung dan hujan deras, seakan mengiring perpisahan kami. Meski begitu, lautan sangat teduh. Maklum, selama beberapa bulan ini, hujan baru saja mengguyur desa tersebut. Rupanya kedatangan kami membawa berkat tersendiri. Ingin rasanya kembali lagi ke sana, menghabiskan waktu bersama riangnya para bocah dari negeri lautan, berteman hangatnya udara pantai, mencicipi segarnya ikan, berkat dari Sang Pencipta, dan membiarkan jiwa dan raga saya, dihipnotis oleh eksotisnya panorama Pulau Gangga yang selalu meninggalkan bekas kagum di benak.(*)

http://www.wisatasulut.com/pulau-gangga-pesona-eksotis-yang-menghipnotis.html

One comment on “Pulau Gangga, Pesona Eksotis yang Menghipnotis

  1. nurbudisaputro
    April 13, 2013

    Reblogged this on SixFiveNinetyTwo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Gambar

Archieves

%d blogger menyukai ini: