v4n73r

Learn To Fly

Semakin Dibabat, Semakin Merambat (Refleksi Atas Kekerasan Terhadap Wartawan)

Meksi dibabat, mereka semakin merambat.(foto:ist)

Meksi dibabat, mereka semakin merambat.(foto:ist)

Pijar malam kian meremang. Apalagi sejumlah cahaya kian tak terasa suam. Parahnya lagi, sekujur tubuh terasa mengecil, mengajak ragaku tuk mendengarkan permohonan lensa yang kian lelap….

Tapi….Tunggu…. Nalarku masih bersikap anarkis. Ia masih melantun fatwa tentang potret sejumlah fakta kekerasan yang menerjang para “kuli tinta”. Nalarku masih diterjang amarah dan serapah ketika menatap insan-insan politikrat birokrat yang terlalu cemas kehilangan bandrol daripada nyawa…

Tak hanya itu…
Batinku kian membara…melantun beberapa petak aksara, ketika kebenaran lebih cenderung disembunyikan di bawah ketiak para pejabat yang selalu tampil dalam balutan tuxedo kontemporer, dan dèngan getol mengumbar janji-janji “alay” dan “lebay”….

Ragaku kian bergetar, ketika tawa kebahagiaan yang harusnya diberi kepadà rakyat, akhirnya lebih mudah dibeli dengam deretan nomor rekening….tangis rakyat malah diumbar ke ranah hukum dengan maskot perjuangan kepentingan sendiri….

Tragis….Dunia sepertinya semakin tak adil saja, menghadiahi keberpihakan kepada kaum aristokrat yang mengutamakan birokrasi untuk mengintimidasi nurani demi ambisi….

Jalan seperti penuh ancaman. Nasib para kuli tinta seperti diatur penguasa aristokrat. Jiwaku kian meraung ketika demi ambisi, darah para pembeber fakta dan pengungkap realitas tercurah, membasahi wajah ibunda pertiwi. Mereka diteror…dianiaya…dan bahkan dibunuh. Tapi, kasus pengusutannya bisa dihitung dengan jari saja. Tak semuanya tuntas ditelusuri.

Mereka seperti target tepat pelampiasan nafsu, amarah dan murka para pencinta setelan tuxedo, yang sangat akrab berlimang uang rakyat itu….Ahh…rasanya terlalu naif bila berspekulasi. Namun, fakta yang terjadi seperti lebih cenderung mencari kantong-kantong pejabat. Bahkan, demi segepok uang rakyat yang harusnya melindungi para kuli tinta, ada yang bersedia pula dibayar untuk menghabisi nyawa sang penabur aksara.

Masihkah ada keadilan di negeri ini, ketika hak para jurnalis terus dihantam kepentingan penguasa. Masihkah ada ruang penghargaan bagi tugas mereka ketika nomor ponsel mereka dihadiahi sejumlah teror dan ancaman dari pihak yang disegani di masyarakat. Dan masihkah ada setitik kasih sayang bagi mereka, yang selalu berkawan abu dan debu jalanan demi mencari sesuap nasi seperti layaknya manusia biasa?

Hidup mereka seakan penuh takdir yang menyebalkan, nasib yang berujung pada penderitaan dan kematian. Tugas mereka seperti dianggap aib bagi kaum aristokrat hardiningrat yang bila tercium busuknya, selalu berlindung di balik paripurna dan UUD 1945.

Meski demikian, tragisnya perjalanan hidup mereka dalam bertindak sebagai pengawas sosial, kebenaran terus diwartakan lewat denting aksara. Meski sering dipandang sebelah mata, mereka tetap setia pada keyakinan untuk menjalin filosofi bersayap lewat untaian kata demi memperjuangkan kebenaran.

Biar mereka dibabat….Mereka tetap kian merambat.Biar mereka dihajar….Mereka tetap takkan memudar.
Biar mereka dianiaya…Mereka tetap bercahaya.
dan biar mereka dihabisi…Suara mereka tetap membekas di hati.

Biarlah darah kami, mengadu pada sang pencipta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Gambar

Archieves

%d blogger menyukai ini: