v4n73r

Learn To Fly

Sebaris Noktah Untuk Anima

AnimaAnima…
Pukul 01.50 menit aku terbangun dari tidurku, dengan perasaan berkecamuk; entah pikiran manakah yang tengah membuatku terbangun selarut ini. Padahal, senandung melankolis-romantis yang dilantun Elliott Yamin_Wait For You yang selalu ku putar bila hendak merajut mimpi, masih mengalun lembut lewat headphone kecil yang bersarang di telingaku; kira-kira sedari 5 jam yang lalu. Dan entah mengapa pula, kesadarnku yang seharusnya masih terbelit situasi ‘lelap’ tidak terjadi. Malah sebaliknya, ku langkahkan kaki ini menembus dinginnya malam di luar kamarku.

Ku tatap gugusan bintang yang anehnya bisa ku hitung. Hmm…sepertinya langit sedang mengizinkanku mengkalkulasi “rekannya”. Ku coba mengintip purnama apakah ia muncul dengan berkas-berkas (bias-bias) cahaya keemasannya sama seperti malam-malam kemarin ataukah tidak. “Ahh…ternyata ia tak muncul. Mungkin ia malu padaku,” gumamku. Hampir 30 menit aku berada di bawah gugusan bintang, berteman ‘beberapa milir’ angin dingin, bersama deru kendaraan roda dua dan empat, dikendarai insan-insan yang entahkah baru hendak pulang ke peraduan, ataukah baru mau pergi ke peraduan yang lain.

Aku kembali…ke kamarku, menatap ruang kecil bawah tanah ini yang sangat memberi beberapa tetes nectar inspirasi di saat yang tepat ataukah di saat yang tidak tepat. Lalu beberapa menit kemudian, ku raih ballpoint kecil milikku dan akhirnya tangan kanan ini “mengoyak” lembaran putih dengan untaian tinta dan terciptalah goresan tinta yang ke sekian kalinya ini; sesaat setelah aku bergumam “Ahh…sepertinya inspirasi – imajinasi ‘baru nongol’.

Love and Acceptance

Love and Acceptance

Anima…
Kesan pertama saat menorehkan tinta kali ini, seperti dihimpit melodi. Sepertinya jiwaku sedang bernyanyi. Bernyanyi tentang pluralnya pengalaman hidupku yang seringkali juga tidak ku maknai sebagaimana seharusnya. Bila menilik lebih dalam, aku bersalah; dan aku bahkan pernah berpikir untuk “minta maaf” pada jiwaku, namun anehnya tidak ku lakukan. Aku masih menikmati permainannya. Seperti menyalakan api, dan kemudian memadamkannya tidak dengan sungguh-sungguh. Beberapa kepingannya masih terus membara. Kesan yang berikut, sepertinya setiap ‘daratan’ yang ku temui terasa seperti ‘lautan’ yang terus-menerus melebar, memberi ruang lebih banyak bagi air untuk menggenanginya.

Prosesnya jadi semakin rumit, tatkala hujan, yang katanya air mata sang langit tak memberi waktu yang cukup bagi panas terik sang raja siang. Mengapa hidup jadi semakin rumit, ketika bias kebahagiaan telah menampakkan sinar terang-benderang di depan sana anima???? Apakah ini berarti bahwa aku harus terus ‘mandi darah’ dalam cinta seperti tembang manis-menyakitkan milik Leona Lewis – Bleeding Love? Ahh….Belum usai pula. Di sisi lain, jalan terasa begitu panjang dan hanya menyisakan kesendirian. Alasan dan pilihan terasa seperti ‘badut’ yang terus menghadiahi jiwa dengan pementasan lawak yang menggelikan. Maknanya nanti direnungkan secara filosofis. Hmm…..benarkah anima??? Bila itu benar….Mengapa di sisi lain pula, nuansa makna filosofis terasa seperti ‘hamba’ yang selalu memenuhi setiap nalar jiwa-jiwa dengan dahaga untuk mencari dan menemukan ‘majikannya’???Mengapa harus ada dahaga???

Menyisakan dahaga

Menyisakan dahaga

Ahhh…..Anima….
Aku seperti berdiri sendiri menatap dunia dengan perlawanan, mencoba berkontradiksi, walau aku tahu hukum kausalitas dan relasi mutualistik-simbiotik berada di balik terciptanya kontradiksi itu. Nalarku seperti berhamburan mencari titik koordinat lintasan fakta-fakta yang tergolong quantum newton yang kesohor, yang selalu lari terbirit-birit bak kesetanan. Dapatkah??? Haahh!!!…. Janganlah mengejekku anima…. Jangan buat aku tertawa terbahak-bahak untuk kesekian kalinya. Kau sendiri sudah mengetahuinya. Selalu ada ‘momentum (tumbukan atau tabrakan)’ di balik fakta-fakta empiris pengalaman hidupku, yang lebih banyak bruto-nya daripada netto-nya.

Ingin rasanya aku menjerit…. “Berikanlah aku pagi hari semenit saja tuk mengusir pergi dinginnya malam yang masih tertinggal di ‘beranda raga”, namun kebenaran kenyataan tak mengizinkannya. Apakah ada perjanjian antara yang baik dan yang jahat??? Berapa banyak pendukung mereka??? Bahhh….ternyata kebebasan selalu menjadi belenggu dan penindasan selalu menjadi maskot terciptanya perdamaian. Mengapa tawa, air mata, sedih dan amarah seperti untaian nada do – mi – sol – do, dalam deretan solmisasi yang katanya adalah sumber harmonisasi??? Mengapa pula tantangan dan jawaban terkesan terlalu banyak sehingga membuat hidupku terkesan pula seperti “Lebay”???

Hmmm….Di satu pihak aku tidak mau lari dari kenyataan hidupku, sebab aku yakin sepenggal jiwa ini bisa mengambil / meraih yang tidak aku mengerti. Aku tidak ingin bersembunyi sebab menemukan masih lebih baik. Namun…Di sisi lain umur kebijaksanaan terasa pendek alias tak bertahan lama. Seperti perlu dipancing dulu. Bukankah manusia-manusia sekarang bisa mengalahkan nasib dan mengoreksi takdir??? Hebat!!!! Sungguh hebat anima… Jiwa-jiwa mereka semakin hebat. Tak seperti kamu dan aku. Manusia-manusia produktif yang tak gentar ‘diciptakan’. Dan akhirnya, ‘setan’ seperti tengah dipermainkan manusia, dan nasibnya seperti ‘di ujung tanduk’!!! Pantas saja anima…. Manusia mengalami krisis. Krisis yang membawa manusia pada dua pilihan frontal dan kontradiktoris dengan kodratnya yakni menjadi “robot berjiwa manusia” ataukah “manusia berjiwa robot”.

Bersembunyi di balik kelamnya misteri

Bersembunyi di balik kelamnya misteri

Anima….
Semuanya terjadi dalam hidupku. Entah pengalaman apa lagi yang akan aku hadapi nanti. Begitu banyak yang telah terlewati. Sebagian adalah hal baru, namun sebagiannya lagi adalah pengulangan meski ada renovasi kecil-kecilan di balik pengalamanku itu. Ada yang dipersempit bahkan ada yang melebar. Saking luasnya, proses melebarnya pengalamanku itu seperti tak ada batas yang menjadi tujuan akhir perjalanan. Kata orang, kematianlah tujuan akhir. Tapi, bila dipikir-pikir, bukankah kematian adalah langkah awal hidup yang baru? Dan bila hidup yang baru sesudah kematian terjadi, bukankah momen tersebut adalah pengalaman? Apakah itu bisa tidak berarti atau tidak harus berarti perjalanan??? Jiwaku masih terus berpikir lagi anima….Ternyata di balik pagi dan malam hari, mengasilkan ketakutan manusia di kemudian hari. Apakah ia masih bisa menatap pagi dan malam lebih lama ataukah tidak. Ahh…anima… Wajarlah bila takut. Sebab kita adalah manusia bukan??? Ehh salah…bukankah kamu bukan manusia…anima???

Apa???
Kamu (anima) tak bisa dipisahkan dari tubuh???

Bahh…apakah ini omong-kosong abad modern yang ke sekian ini anima??? Bila kamu tidak bisa dipisahkan dari tubuh, mengapa terlalu banyak insan rebah di pangkuan ibu pertiwi, bersimbah darah dan meregang nyawa? Mengapa terlalu banyak insan doyan merenggutmu (anima = jiwa) dari tubuh insan-insan lainnya, hanya karena sesuap nasi, hanya karena keyakinan, dan hanya karena harga diri???

Anima—Anima….
Sepertinya terlalu tragis bila dipandang, dan terlalu menyakitkan bila direnungi. Hmm….Permulaan terasa lebih lama dibanding akhirnya. Begitu pula datang dan pergi yang jawabannya tersirat dalam pertanyaan “seberapa kuat penantian”. Pilihan juga…yang katanya selalu memiliki dua sisi, seperti mengajak manusia untuk melakukan percobaan; sebab tanpa percobaan takkan ada pengalaman. Dunia layaknya laboratorium sains. Penuh eksperimen demi menghasilkan pengalaman baru. Apa itu jaminan??? Ahh….jaminan selalu memiliki konsekuensi, seperti esensi menyebabkan eksistensi. Atau menurutmu aku keliru? Entahlah anima…aku seperti habis beretorika dengan pengalaman hidupku yang penuh kejutan; kejutan yang tak pernah ada habisnya. Aku bahkan menyadari, bahwa aku membuang-buang waktu hidupku saja. Sebab, titik perjuangan untuk sukses hanya diperoleh ketika usia senja (itu pun kalau). Bahkan meski sukses di usia muda, di masa senja pun tak sama lagi. Bagaimana menurutmu anima??? Apa yang harus kita perjuangkan??? Memang….hidup tidak hanya “lay down and you will find” atau “just do it and you will understand” atau pula, “keep loving and pray and you will safe”…Hidup lebih daripada itu semua. Hidup terarah pada kesempurnaan ilahi. Maaf….bila membuatmu berpikir anima….tapi setidaknya ini adalah gambaran bahwa begitu banyak untaian realitas yang terjadi dalam hidupku.

Berkat yang Terindah

Berkat yang Terindah

Di luar daripada semua itu, aku sadar, setiap senandung butuh pencipta, dan setiap kata butuh kalimat untuk membuatnya sempurna. Kesetiaan membutuhkan kepedulian untuk membuatnya elegan, begitu juga dengan senyuman. Ia butuh bibir untuk membuatnya merekah. Aku masih tetap yakin, pijakan membutuhkan keyakinan untuk membuatnya tettap kokoh dan kesempatan selalu memberi waktu untuk pembuktian. Setiap pengalaman hidup selalu tergerak menuju cinta. Pendosa bertobat karena cinta, benci pun tersenyum karena cinta. Cinta tidak membutuhkan kata “masih” atau “tapi” melainkan “sungguh”. Aku masih tetap yakin anima….Cinta membuat kecupan selamat tinggal mengandung arti mesra, yakni rindu bahwa “kita akan bertemu lagi”. Cinta membuat hidup terlihat bersinar. Tanpa cinta kita tak pernah bisa memahami bahwa akhir kata “hingga” adalah “selamanya”.

Aku benar-benar terharu anima….Dan ini adalah hadiah terindah yang tak akan ku lupakan. Mereka (pengalaman hidupku) memberi cahaya bagiku dari kekurangan mereka dan mereka menerimaku dengan segala kekuranganku. Aku yakin… Tuhan adalah aktor intelijen di belakang layar itu…Thanks God…That Is Wonderfull…. 

 

To Anima

With Love: 

Your Body and Mind

(Ivan Jeremy)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Gambar

Archieves

%d blogger menyukai ini: