v4n73r

Learn To Fly

Life Is Precious (Refleksi)

(Catatan Ringan Tentang Hidup)

Kita berdiri di atas realitas yang sama, namun berbeda-beda pemaknaannya. Begitulah sisi menarik kehidupan.(foto:v4n73r)

Kita berdiri di atas realitas yang sama, namun berbeda-beda pemaknaannya. Begitulah sisi menarik kehidupan.(foto:v4n73r)

Suatu ketika saya hendak menulis. Kira-kira bunyinya seperti begini…

Kebahagiaan dan kesedihan hanya soal waktu saja. Tak ada yang tahu kapan kedua hal itu datang. Tapi jika sudah datang, selalu disertai kesulitan. Seperti kata pepatah “Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”, dan begitu pun sebaliknya. “Bersenang-senang dahulu bersakit-sakit kemudian”. Banyak orang berpikir, kesulitan terbesar dalam menjalani hidup adalah karena hidup penuh tantangan. Banyak pilihan yang semakin membingungkan, ada nilai yang harus dikorbankan, dll… Semua berakhir dalam sebuah kata sederhana, itulah “konsekuensinya”.

Sekilas nampak biasa saja kata konsekuensi itu. Rasanya seperti takdir atau nasib atau meminjam beberapa kalimat dalam dialek Jawa, “Dari sononya udah begitu”. Padahal, jika dianalisis secara matang istilah tersebut bisa mengandung makna konotasi atau kebalikan dari sisi positif denotasi. Makna konotasinya bisa berarti “Resiko”. Ya, resiko! Bagi sebagian orang, hidup ini penuh dengan resiko, atau bahkan hidup adalah resiko. Mengapa? Sebab selalu ada pembalikan dari situasi awalnya. Secara sederhana bisa dianalogikan dengan dua sisi mata uang logam yang selalu berbeda di setiap sisinya. Ketika menerima sebuah koin uang logam, kita selalu melihat sisi utamanya (aktivitas pembedaan dimulai).¬†Manakah yang merupakan sisi depannya dan manakah sisi belakangnya. Jika telah menemukan sisi depannya, seringkali kita terpaku pada sisi tersebut, seakan-akan sisi itu yang paling penting. Namun, apa jadinya bila sisi belakangnya dilepas? Apakah koin tersebut masih bisa disebut uang logam? Tentu tidak! Hal serupa pun terjadi bila sisi belakangnya dilepas. Uang itu tidak utuh lagi. Sebagian dari dirinya telah hilang.

Kembali ke soal hidup. Bagi saya tidak penting bahwa hidup itu penuh dengan konsekuensi ataukah resiko. Sebab semua orang punya otoritas dalam memaknai hidup mereka. Saya pun tidak ingin menilai konsep manakah atau filosofi manakah yang paling benar, sebab pada dasarnya terlalu banyak kriteria dan persyaratan dalam mencari dan menemukan kebenaran. Bagi saya yang paling penting adalah bahwa “Hidup itu berharga”. Hidup terlalu berharga untuk kita tangisi atau sesali. Hidup terlalu berharga melampaui kebahagiaan sesaat yang kita capai. Kebahagiaan dan kesedihan yang kita alami adalah harga dari sebuah hidup. Kebahagiaan dan kesedihan dalam hidup adalah sisi yang sama nilainya dengan sebuah koin mata uang logam. Tak bisa dipisahkan satu dengan yang lain, dan selalu membutuhkan satu dengan yang lain. Begitu kompleks, tak memiliki ujung, selalu dalam kesatuan, lingkaran yang berotasi tanpa kita sadari, dan berdansa dalam situasi pembalikan. Selalu ada kesedihan ketika kita bahagia, dan selalu ada kebahagiaan yang terselip dan terpatri ketika kesedihan melanda. Sangat seimbang dan begitu harmonis sehingga seringkali kita terlena dalam ritmenya. Sebabnya karena situasi pembalikan itu.

Situasi pembalikan selalu muncul saat itu berotasi. Pembalikan dalam hidup melahirkan Pilihan untuk kita ambil, untuk kita perjuangkan dalam menapaki hidup ini. Terkadang rotasi itu stagnan. Namun, terkadang pula ia berjalan mulus seperti ada pelumas yang baik dan berkualitas, mengalir memuluskan roda perputarannya. Rotasi menjadi stagnan ketika pilihan yang kita ambil tak cukup dalam memaknai hidup ini. Sepertinya ada yang kurang dalam aktivitas eksistensial kita sebagai manusia. Selain itu, rotasi bisa menjadi stagnan ketika kita terlalu banyak meratapi hidup, tanpa menyisakan sedikit ruang bagi pilihan-pilihan lain yang bisa menggairahkan kita, mengajak kita bangkit dan bergerak untuk suatu tujuan hidup yang takkan membuat kita menyesal untuk kedua kalinya. Rotasi pun bisa menjadi stagnan ketika kita terlalu banyak mengecap kebahagiaan, tanpa mau menderita dalam memaknai hidup kita.

Lain halnya bila rotasi berjalan mulus. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, “Seperti ada pelumas yang baik dan berkualitas…” Rotasinya bisa berjalan mulus bila kita bersedia menerima, dan memaknai setiap situasi pembalikan dalam hidup. Rotasi bisa berjalan mulus ketika kita bisa menyadari setiap pilihan yang kita ambil memiliki konsekuensi dan resiko yang harus kita hadapi dalam bingkai Kebijaksanaan. Dan yang terakhir, rotasi berjalan mulus ketika aspek religius mengambil tempat dalam setiap pilihan yang kita ambil. Ya, Iman, Harap dan Kasih, adalah pelumas yang baik yang bisa memuluskan roda perputaran hidup. Apapun Agama yang kita miliki, dan seperti apakah praktek iman kita kepada Sang Pencipta, saya yakin, Tuhan-lah yang bisa memuluskan dan menguatkan kita ketika roda hidup ini menjadi stagnan. Tuhan juga mampu menerangi akal budi kita ketika pilihan yang kita ambil tak cukup atau bahkan tak baik bagi hidup kita ke depan nanti. Tuhan membuat kita yakin bahwa selalu ada jawaban yang tersedia bagi pilihan yang salah atau keliru.

Akhirnya, saya ingin mengatakan jangan pernah lelah menikmati ritme rotasi perputaran hidup kita. Sebab bila kita merasa capek dan terlalu letih dengan sekian banyak pengalaman hidup kita, percayalah, kita sedang menghancurkan diri kita sendiri. Hidup sangatlah berharga, dan itulah keunikannya, seninya serta keindahannya. Mari kita berjuang agar keunikan itu tetap terjaga, sehingga harga dari sebuah kehidupan adalah semata-mata hanya karena hidup itu berharga****

(01-08-2012)

By : Ivan Jeremy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 2, 2013 by in Analisis, Deskripsi, Filosofis, Opini, Refleksi.

Gambar

Archieves

%d blogger menyukai ini: